>>>

>>>

Cara menggiling kopi hijau

Xyneth – a perpetual sense of deja vu

Date published: 2018-02-10 12:06.

    “Ah! Kintamani! Terima kasih untuk ibumu yang sudah meminjamkan mesin itu untukku. Kamu juga sudah menolong para Prajurit Kopi untuk menemukanku. Atas nama Negeri Nusantara, kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.” Ia membungkuk sopan. Para Prajurit Kopi juga membungkuk dalam-dalam.

    Bajawa sibuk membaca wadah-wadah biji kopi satu per satu. Ia tersenyum senang saat menemukan wadah biji kopi bernama “FLORES BAJAWA” di sebelah “PAPUA WAMENA”.

    Ibu mengernyitkan keningnya namun tetap tersenyum. Ia mengambil cangkir kopi miliknya. Aroma yang kini sangat kukenal memenuhi hidungku.

    “Wamena, aku tidak bermaksud membangunkannya! A-aku-“ Gayo terbata-bata, sementara Wamena, anak perempuan di sebelahnya, ternganga.

    “Iya, harumnya sama seperti temanku si Prajurit Kopi bernama Gayo.” Kuceritakan mimpiku secara lengkap dan terperinci. Ibu tak henti-hentinya tersenyum, kemudian terperangah saat aku mengeja nama-nama kopi Negeri Nusantara, lalu tergelak saat kukatakan aku menemukan Pangeran Luwak di dekat mesin cuci.

    “Tapi Jenderal Mandheling hanya memberikan kita waktu enam puluh menit di sini!” ucap Gayo panik. “Sekarang hanya tersisa empat puluh lima menit!”

    Pangeran Luwak lalu memberiku segenggam penuh biji kopi. Aku ragu menerimanya. Ibu pernah menceritakan kepadaku dari mana biji kopi Luwak berasal. Mukaku mengerut dan Pangeran Luwak tertawa terbahak-bahak. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Kintamani. Tenang saja, ini biji kopi yang kutanam sendiri di kebunku. Anggap saja ini biji kopi Luwak ajaib.”

    “Baiklah.” Aku menuruti kata-kata Wamena dan mulai berbaring. Aku sedang menutup mata saat aku menyadari sesuatu. Mataku langsung terbuka lebar dan memandangi mereka. “Tapi aku masih bisa bertemu kalian lagi, kan?”

    When gain means lost, and vice versa.
    When staying low means reaching the top, and standing tall means downfall.
    When common wisdom equals idiocy.
    When good deeds resemble foolishness.

    Some say power is when you are able to destroy someone and completely sure that he stays that way permanently.
    Scratch destroy. I meant overkill.
    Crush his body, crush his reputation, crush his loved ones, and there you have it. Overkill with ice cream on top.

    Еще картинки на тему «Cara menggiling kopi hijau».

    leave a comment